MALANG — Novel Anak Gunung karya Eko Darmoko dibahas dalam forum “Ngobrol Buku Anak Gunung” di Caramelo Coffee and Books, Jalan Kedawung Nomor 71, Malang, Sabtu (3/10/2026) malam.
Diskusi tersebut menghadirkan Eko Darmoko bersama Fathiyah Azizah dan Ariv R. Hakim. Acara dipandu Ekas Abdul Baits. Forum ini menjadi ruang perbincangan mengenai sejumlah unsur dalam novel, mulai dari tokoh, alur cerita, hingga persoalan pendidikan sastra.
Fathiyah Azizah dalam ulasannya menyoroti persoalan ketubuhan perempuan yang berkaitan dengan tokoh utama, Ranu. Menurut dia, persoalan tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk membaca konflik yang dialami Ranu.
“Banyak hal dalam buku ini yang membahas ketubuhan perempuan, yang dari banyak hal tersebut, nantinya terhubung pada tokoh Ranu. Letak konflik novel ini ada di sana. Konflik eksistensial batin Ranu,” ujar Fathiyah.
Fathiyah menggambarkan Ranu sebagai tokoh yang aktif sekaligus pasif. Ia aktif menjalani perjalanan hidupnya sebagai anak desa pegunungan yang berkuliah di Surabaya, lalu mengembara lintas kota dan negara. Dalam hubungan dengan tokoh lain, terutama teman-teman perempuannya, Ranu cenderung berada pada posisi yang lebih pasif.
Pengalaman tersebut kemudian diikuti kecenderungan Ranu untuk terus menilai dirinya sendiri. Ia menikmati berbagai pengalaman kedewasaan, sambil membawa pengamatan dan penilaian personal terhadap setiap peristiwa yang dijalaninya.
Sementara itu, Ariv R. Hakim membedah Anak Gunung dari sisi struktur penceritaan. Ia menunjukkan bahwa secara kronologis, bab pertama novel tersebut berada pada posisi bab ke-21.
Menurut Ariv, pola itu berkaitan dengan upaya Ranu merekonstruksi ingatannya melalui catatan dalam buku harian ketika berada di Kitakyushu, Jepang. Teknik pembukaan cerita tersebut dikenal sebagai in medias res, yakni membuka cerita dari bagian tengah rangkaian peristiwa.
Ariv juga menyoroti cara Eko membangun karakter melalui perbedaan gaya tutur. Ia menyebut penggunaan idiolek untuk membedakan cara berbicara tiap individu serta sosiolek untuk memperlihatkan perbedaan tutur berdasarkan status sosial.
Hal lain yang mendapat perhatian ialah satire terhadap dunia pendidikan. Ariv mencatat terdapat satu satire yang menonjol dalam novel tersebut dan menggolongkannya sebagai satire Menippean, yang menyasar cara pandang, pola pikir, sikap, atau dogma intelektual.
Contoh kritik itu tampak melalui ucapan Ranu mengenai dosen dan pendidikan sastra di kampusnya. Dalam novel tersebut, Ranu menyebut, “Dosen-dosen di kampusku … tak ada yang memiliki karya sastra. Apalagi mengajari mahasiswanya menulis sastra. Para dosen hanya pandai berteori. Tak bisa menulis. (hlm. 36)”
Eko Darmoko menanggapi pembacaan tersebut dengan mengakui adanya kekecewaan terhadap dunia pendidikan, terutama pendidikan sastra di sejumlah kampus yang dikenalnya.
Di penutup acara, Fathiyah mengajak peserta untuk menjaga budaya literasi melalui kebiasaan membaca dan menulis. “Banyaklah membaca, menulis, kita budayakan literasi sebaik yang kita bisa,”
Redaktur



