Sastra Untuk Kemanusiaan


Membedah Catatan Kaki Pembangunan dalam Sekumpulan Puisi Ririe Rengganis

Penulis: Ariv R. Hakim


Banjir bandang yang mengendap dalam ingatan masa kanak-kanaknya, memicu Ririe Rengganis untuk menciptakan sekumpulan puisi. Ia mengungkapkan pengalaman tersebut dalam bincang buku yang berlangsung di SNI Coffee, Dermo, Mulyoagung, Dau, Malang, Sabtu malam, 19 September 2026.

“Banjir, saya kira, banyak latar belakangnya bukan bermula dari faktor alam. Tapi dari tangan usil manusia yang mencampurtangani alam,” kata Ririe dalam bedah buku itu.

Bincang buku itu dibuka Ajmal Fajar Sidiq sebagai pewara. Ajmal menyebut kegiatan tersebut sebagai ruang untuk memperingati “kegagalan ekologis”. Menurutnya, diskusi buku ini menunjukkan bahwa rangkaian kata dapat dipakai untuk memotret kerusakan alam.

Lepas pembukaan, penampilan baca puisi berlangsung. Nurhanifa membacakan puisi Bulan Tenggelam di Kubangan, salah satu karya dalam antologi Catatan Kaki Pembangunan. Agyl Ramadhan menyusul dengan tiga puisi, salah satunya berjudul Gergaji Negara.

Dalam pembacaan Agyl, puisi itu menggambarkan hutan yang mudah hilang akibat campur tangan negara. Ia melihat karya tersebut sebagai kritik terhadap cara negara memperlakukan alam, terutama dalam konteks Indonesia.

Jai Muhammad, penulis sekaligus juru kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Timur, menjadi pembicara pertama dalam sesi bedah buku. Ia mengaku tertarik pada judul antologi tersebut.

“Impresi pertama saya tertuju pada judul buku,” ujar Jai.

Menurut dia, judul Catatan Kaki Pembangunan mempertemukan dua citraan yang berjarak. “Catatan kaki” mengarah pada sesuatu yang kecil, berada di pinggir, sedangkan “pembangunan” kuat mengarah pada perkara besar. Pertemuan kedua istilah itulah yang kemudian melahirkan tegangan. Suspens yang konsisten muncul di setiap sajaknya. Hadir melalui pertemuan antara alam, kekuasaan, dan akibat yang ditimbulkan oleh keputusan manusia.

Tengsoe Tjahjono, seorang sastrawan dan akademisi, melanjutkan pengulasan antologi tersebut. Ia melihat percakapan dalam kegiatan itu sebagai bagian dari kehidupan sebuah karya sastra.

“Karya sastra bisa dinilai hidup dari ruang percakapan yang tercipta kemudian. Layaknya acara ini, buku ini menciptakan dialektika,” kata Tengsoe. Tengsoe mencermati pun bentuk puisi dalam antologi yang disusun Ririe. Setiap puisi disusun dalam tiga bait. Ia membaca pola tertentu dalam susunan itu.

Bait pertama menghadirkan orientasi isi, terutama kuasa yang kerap disimbolkan melalui negara dan pengaruhnya terhadap kelestarian alam. Bait kedua memuat potret kejadian ironis, penyalahgunaan kuasa pada alam. Bait ketiga menutup puisi dengan konsekuensi, kerusakan lingkungan.

Ia juga menyoroti penggunaan personifikasi dalam sejumlah puisi. Seperti misalnya frasa pohon dituduh, hutan divonis, dsb. Benda-benda alam ditempatkan seolah-olah berada dalam ruang hukum dan kesaksian.

Menurut Tengsoe, antologi itu memanfaatkan dua kelompok diksi. Kelompok pertama dekat dengan medan makna kekuasaan. Kelompok kedua berkaitan dengan medan makna kesaksian. Keduanya bertemu dalam puisi-puisi yang mengungkap relasi timpang antara manusia, negara, dan alam.

Ririe mengatakan bentuk tiga bait untuk setiap puisinya, dipilih karena ia menyukai kerapian tulisan. Keseragaman itu juga berangkat dari pandangannya bahwa banyak fase kehidupan berlangsung dalam tiga tahapan. Sesederhana ia mencontohkannya melalui siklus lahir, hidup, dan mati.

Bincang buku tersebut menghadirkan Ririe Rengganis, Tengsoe Tjahjono, dan Jai Muhammad sebagai pembicara. Ajmal Fajar Sidiq memandu acara, sedangkan pembacaan puisi diisi antara lain oleh Nurhanifa dan Agyl Ramadhan. Kegiatan itu turut melibatkan Pelangi Sastra, Penerbit Pelangi Sastra, WALHI Jawa Timur, Griyabuku Pelangi, SNI Coffee, dan Saling Tulis.

Pelangi Sastra Malang sebagai “terminal” sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra yang lahir di Kota Malang dan sekitarnya, mengupayakan distribusi wacana sastra di kota Malang, memfasilitasi peluncuran karya sastra, beda buku sastra, membuat event-event panggung sastra, menjembatani pertemuan-pertemuan karya sastra dan karya seni lainnya, juga membangun jejaring dengan komunitas-komunitas sastra atau sastrawan di Indonesia dan dunia dan menerbitkan buku karya-karya sastra dan memasyarakatkan sastra.
Pelangi Sastra Malang sebagai “terminal” sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra yang lahir di Kota Malang dan sekitarnya, mengupayakan distribusi wacana sastra di kota Malang, memfasilitasi peluncuran karya sastra, beda buku sastra, membuat event-event panggung sastra, menjembatani pertemuan-pertemuan karya sastra dan karya seni lainnya, juga membangun jejaring dengan komunitas-komunitas sastra atau sastrawan di Indonesia dan dunia dan menerbitkan buku karya-karya sastra dan memasyarakatkan sastra.
share on
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

baca juga tulisan lain

Pelangi Sastra Malang sebagai “Terminal” Sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra yang lahir di kota Malang dan sekitarnya.

Setiap orang dapat berkontribusi dengan mengirimkan arsip karya sastra berupa cerpen, puisi maupun esai dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Karya tersebut dari warga asli Malang atau warga luar Malang yang sedang berdomisili di Malang
  2. Karya tersebut telah dimuat di media massa, media daring, majalah, buku, maupun telah dibahas dalam sebuah forum/acara terbuka
    Karya dikirimkan melalui alamat surel [email protected] dengan subjek cerpen/puisi/esai

Karya tersebut akan kami arsipkan secara digital di website https://pelangisastramalang.org

Griya Buku Pelangi adalah Toko Buku yang menyediakan berbagai kebutuhan buku Anda. Banyak pilihan yang kami terbitkan baik dari buku pendidikan dan kesastraan. Untuk pembelian bisa melalui online di Marketplace kami atau kontak kami melalui aplikasi chat yang tersedia.