Nyonya Tua di Tanah Tandus

Ia pernah mengejar anaknya di tengah hamparan padi yang amat subur, dan sekarang Nyonya tua itu tertatih-tatih mengejar kenangan di atas tanah tandus yang dipijaknya. Oh Ibu bumi disakiti, oh ibu bumi yang memberi. Memang benar, rambut putih itu dibiarkan terurai tertiup angin. Kepala yang menjadi tempat berpijaknya helaian rambut kapas itu tak lagi kokoh karena penuh dengan lipatan waktu. Kusodorkan topi ke arah wanita tua yang sejak tadi duduk di kursi roda ini. Bibirnya yang rengat berusaha untuk tersenyum padaku. Kulihat hujan mulai menetes dari pelupuk matanya. Mungkin ia berharap hujan itu dapat membasahi hatinya yang tandus, setandus hamparan tanah tak bertuan di hadapan kami saat ini.

***

“Hantarkan aku maju Mas” ucap nyonya tua itu padaku setelah aku membantunya turun dari mobil.

Kudorong perlahan kursi roda ini ke arah depan menyusuri jalanan kering kerontang. Di depan kami ada Sanusi, lelaki gempal berbadan gempal yang berseragam sama sepertiku. Aku dan Sanusi hari ini memang mendapatkan tugas khusus untuk memenuhi keinginan terakhir nyonya tua ini. Tugas itu diberikan oleh Tuan Muda Bima, atasanku. Sebagai anggota dewan yang baru saja dilantik, dia memang tak bisa mendampingi ibunya sendiri karena ada panggilan mendadak dari ibu kota.

Permintaan terakhir ibu dari Pak Bima yang seringkali kusebut ‘Nyonya’ ini sangat unik, dia meminta untuk diajak ke lokasi pembangunan Mulya Desa Regency. Sebuah lokasi yang nantinya akan menjadi perumahan kelas wahid di sisi selatan Kota B. Sesampainya di sana, dia minta untuk dikawal saat jalan-jalan menyusuri lokasi pembangunan Mulya Desa Regency. Tidak hanya itu, Nyonya juga berpesan agar aku mau menuliskan segala hal yang ia ceritakan. Aku sudah siap dengan bolpoin serta notes kecil berwarna putih polos di saku bajuku sembari bersabar mendorong dia yang duduk manis di kursi roda.

“Berhenti!” ujarnya.

Kuhentikan dorongan kursi roda ini di depan salah satu tumpukan paving yang masih belum tergarap.

“Kau sudah siap menulis?” tanyanya padaku.

Kepalaku mengangguk dan Nyonya mulai bercerita.

“Nak, dulu sebelum berangkat sekolah kau selalu diam-diam meneguk kopi di gelas bapakmu sebelum bapak pergi ke sawah. Setelah itu bapakmu marah-marah keheranan dan aku harus membuat kopi lagi, sedangkan kau malah mengayuh sepedahmu dengan sangat cepat ke arah sekolah. Tahukah kau bahwa kelakuanmu itu membuatku terlambat memetik lombok. Sering aku dirundung oleh teman-temanku dan mendapat lombok yang kurang bagus gara-gara terlambat atau bahkan tidak kebagian memetiknya. Meskipun demikian, aku tetap sabar Nak. Ketika matahari mulai condong ke barat, aku menyempatkan diri untuk pulang. Menyambutmu yang sebentar lagi pulang sekolah. Saat pulang sekolah, kau sangat jarang menghiraukan senyuman ibumu. Kau langsung masuk kamar, melepas sepatu, melemparkan tasmu dan baju putihmu. Lalu kau berlari ke arah lapangan sambil mengenakan celana merah dan kaus kutang saja. Kau bermain sepak bola hingga adzan magrib memanggil. Kaulah jagoan ibu, anak ibu semata wayang yang mampu membolak-balikkan hati ibu.”

Setelah berucap demikian, air mata Nyonya berlinang lagi. Segera kuambil sapu tangan bersih yang terbungkus rapi di saku celanaku. Dia mengusap air matanya sambil menunjuk ke arah lain.

“Antarkan aku ke kayu yang masih tegak berdiri itu” pintanya.

Ada satu bambu setengah patah yang masih berdiri tegak di tanah tandus ini. Lokasinya agak jauh dari tempat kami sekarang dan medan yang harus dilewati terihat tidak mudah.

“Nyonya, apakah Anda yakin ke situ?” tanyaku.

“Ini permintaan terakhirku Mas, turutilah” ujarnya meyakinkan.

Aku mulai mendorong kursi roda itu lagi, seturut kehendaknya. Jalanan yang kami tempuh mulai terjal, bongkahan batu dak kerikil berhamburan di sekitar kami. Sanusi sesekali membantuku mengangkat kursi roda apabila jalanan mulai terjal. Nyonya tetap tak bergeming, wajahnya yang sayu tetap memandang titik yang dia tuju. Saat kami masih membopong kursi rodanya, tiba-tiba Nyonya mengatakan sesuatu.

“Ambilkan itu?” dia menunjuk ke arah rantang kosong yang jauth tergeletak.

Di tempat seperti ini masih saja ada rantang. Ah mungkin peralatan makan kuli-kuli yang sempat mengerjakan proyek ini. Kuambil rantang kering berwarna loreng itu.

Kuberikan pada nyonya tua dan dia mendekap rantang itu sembari berkata, “Tulislah, aku akan bercerita lagi!”.

“Nak, kau selalu menyempatkan pulang saat jam istirahat tiba ketika kau masih berseragam SMK. Kau tahu ibumu sudah mulai tua dan tak lagi pergi ke sawah. Kau  pulang hanya untuk mengambil dan bawakan rantang berisi nasi,lauk, dan sayuran ke tempat bapakmu istirahat di pos pinggiran sawah. Saat itu kau berkata agar ibuk tidak perlu berjerih payah pergi ke sawah lagi. Namun aku menolaknya karena hanya dari sawah itulah, keluarga kita bisa makan Nak. Kau juga berjanji pada ibu untuk belajar giat agar kelak jadi orang sukses dan ingin agar ibu dan bapakmu ini terbebas dari kegiatan bertani sangat cukup memeras keringat. Kini kau telah menepati janjimu sayang.”

Rantang itu dilemparkan oleh Nyonya hingga membuyarkan segerombol kecil lalat yang sejak tadi berunding di atas bekas gundukan kotoran hewan.  Tak hanya terbengkalai, tempat ini juga kotor dan berbau di beberapa sisinya. Maklum saja, sudah sebulan proyek perumahan ini mangkrak. Tempat ini menjadi hamparan tanah kering dengan puing puing yang tak lagi mau berdiri dan sisa sisa material yang menyebar ke sana ke mari.

Aku dan Sanusi kembali mengangkat kursi roda Nyonya. Sesekali aku melihat Sanusi menyeka bilur-bilur keringat di wajahnya. Nyonya memang tidaklah berat tubuhnya dan kursi roda ini juga  tidak ada apa apanya dibanding barbel yang diangkat Sanusi setiap hari, tapi terjalnya jalanan serta semburan sinar matahari membuat kami menjadi berkeringat begitu deras.

Perlahan tapi pasti, sampailah kami di potongan bambu yang masih berdiri tegak di ujung tanah tandus ini. Aku dan Sanusi duduk di samping kursi roda nyonya. Nafas kami tak teratur bahkan Sanusi mulai terbatuk-batuk. Dia kelelahan. Aku melirik ke arah Nyonya, kulihat wajahnya sayu. Matanya ingin menangis tapi pundi-pundi air mata sudah dihabiskanya sejak aku menginjakkan kaki di tempat ini.

“Sudahkah kau siap untuk menulis?” tanya Nyonya.

“Siap nyonya, tapi izinkanlah aku menulis sambil duduk, aku kelelahan” ujarku sembari mengatur nafas.

“Baik, akan kuakhiri segera kisah ini!” ucapnya berat.

“Anakku yang kusayang, Tiballah saatnya aku mengakhiri semua kenangan tentang kita. Aku sekarang berada di tempat kau mengajakku berfoto bersama dengan mengenakan pakaian wisuda. Di belakang tempat kita ada joglo reyot yang seringkali digunakkan bapakmu untuk menuang kopi sembari memanjangkan kaki ketika lelah bertani. Ingatanku masih dipenuhi dengan senyumanmu yang mengembang lebar sejak keluar dari gedung wisuda di pusat kota. Kau menyeret ibu dan bapakmu ini sampai ke tempat ini.  Kau merupakan lulusan terbaik yang mendapat beasiswa hingga kau lulus. Kau memang meringankan beban kami saat itu. Apapun yang terjadi, kami tetap bangga padamu. Sekarang Ibu hanya ingin kau kembali Nak. Kembalilah seperti anakku yang kukenal dulu.”

Kata-kata itu adalah kata kata terakhir yang diucapkan oleh Nyonya di tanah tandus ini. Setelah itu ada jeda yang begitu panjang di antara kita untuk mengarungi kesunyian. Aku melihat Sanusi tergeletak kelelahan. Ia butuh waktu untuk mengambil tenaga. Setelah semua kesunyian yang lengang itu berlalu. Nyonya tua mengacungkan telunjuk tangan kananya ke arah mobil kami diparkir.

“Apa kau sudah siap Nyonya?” tanyaku.

Mulutnya tak terbuka tapi kepalanya mengangguk cepat.  Itu berarti bahwa Nyonya sudah siap. Kubangunkan Sanusi lalu kami mengangkat lagi Nyonya, lengkap dengan kursi rodanya. Perjalanan menyusuri tanah tandus dimulai kembali. Matahari kini tepat berada di pucuk kepala. Meskipun demikian ini adalah pelayanan terakhirku pada Nyonya Tua. Setelah ini ia sudah tidak bersama kami lagi.

***

“Bu Prapti, Bu Prapti!” terdengar suara ibu-ibu memanggil nama sang Nyonya saat kami sudah hampir sampai di mobil.

Wanita-wanita berdaster kumal itu berlari menghampiri kami.

“Berhenti sebentar” ucap Nyonya.

Aku dan Sanusi pun berhenti bersama Nyonya. Wanita wanita itu bersimpuh di bawah kursi roda nyonya.

“Bu Prapti, tolong kami Bu! Tolong kami!” ujar salah satu dari mereka.

“Anakku tak bisa sekolah Bu, kami ingin anak kami seperti anak Ibu!” sahut yang lainya.

“Bu tolong kami Bu, sawah kami hilang Bu. Suamiku tak bisa apa apa selain mencangkul dan menanam Bu!” timpal wanita yang paling kurus.

“Iya Bu, bahkan Bapak sudah gila setelah sebulan tidak lagi ke sawah!” ucap suara wanita terdengar dari belakang.

“Bu Prapti, masihkah kau ingat bahwa kau dulu sering bersama ibu kami memetik lombok, dan memetik hasil di ladang ini? Saat itu kami masih kecil, kami ingin seperti ibu kami dan engkau yang selalu guyub rukun menggarap sawah” kata salah satu wanita muda yang memberanikan diri mencurahkan isi hatinya. Setelah itu suasana menjadi semakin gaduh.

Mereka bersahut-sahutan memohon pada Nyonya. Mendengar semua keluhan itu, Nyonya memejamkan mata sembari menengadah ke atas. Ia seolah meratap dan memohon pertolongan pada yang maha kuasa. Namun waktu sudah tidak bisa diajak berunding. Senja nanti, kami harus mengantarkan Nyonya Tua ke tempat yang diperintahkan Tuan Bima.

Dengan teramat terpaksa, kusibakkan ibu-ibu berdaster tadi agar menyingkir. Kuangkat Nyonya dan kupercepat jalan menuju mobil. Sanusi mengambil peranku untuk menghalangi ibu-ibu tadi. Sesampainya di mobil, kupacu gas dengan cepat agar ibu ibu tadi tak mengejar.

Di tengah perjalanan, kuberanikan diri untuk bertanya “Siapa mereka Nyonya?”

“Sama sepertiku dulu, mereka adalah anak-anak petani di tempat ini” ucap Nyonya.

Aku tahu hatinya tergoncang, oleh sebab itu kunyalakan TV di mobil dan keluarlah siaran berita siang. Wajah nyonya semakin tergoncang. Aku tak berani bertanya tapi kukeraskan volume TV dan presenter berkata, Bima Suprapto, anggota Dewan resmi menjadi tersangka di KPK atas kasus suap pengalihan fungsi ladang dan sawah menjadi perumahan elit di wilayah Kota B.

Tanganku gesit bersiap mengganti saluran Tv lainnya, tapi Nyonya berkata “Tidak usah! Biarkan saja!” ucapnya.

Aku tak berani melawan. Kupercepat laju mobil ini agar segera sampai di tempat tujuan, panti jompo di sudut kota.

“Mungkin ini saat terakhir aku melihat wajah anakku, anak yang kubesarkan sendiri dengan bantuan Ibu bumi yang kami kerjakan bersama. Hati-hati Nak, semoga Ibu bumi yang kau sakiti melindungimu!” ujarnya.

 

Pernah dimuat di Radar Madiun pada edisi September 2020