Gelombang Angin: Sastrawan, Media, dan Pascarealitas

 

 

Cuplikan puisi di atas merupakan sebuah tanda bahwa kini manusia telah memasuki sebuah proses baru di era disrupsi. Proses dalam sebuah gelombang besar sebagai wujud dari perubahan era dan menjadi hal yang tidak mudah dihindari oleh manusia, baik perubahan kecil maupun besar. Perubahan menjadi disruptif mengakibatkan segala percepatan terjadi di segala aspek kehidupan. Hal tersebut disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi digital yang juga memengaruhi perkembangan model hubungan manusia. Era disrupsi di abad ke-21, melahirkan banyak media teknologi informasi dan berbagai jenis informasi yang bisa diperoleh dengan cara mudah dan cepat oleh siapapun, di mana saja, serta kapan saja sehingga dapat terjadi kompetisi yang cepat dan bebas. Era disrupsi juga telah melampaui era pascarealitas sebagai fenomena terkini. Segala wujud dan bentuk dari kebebasan berpendapat dapat diproduksi dan dikonsumsi oleh siapapun sehingga berdampak lahirlah fenomena ‘matinya kepakaran’. Hal tersebut serta kebutuhan terhadap kecepatan dan efisiensi di segala bidang mendorong manusia untuk menciptakan inovasi baru, termasuk di bidang sastra.

 

Gelombang Angin: Sastrawan, Media, dan Pascarealitas

Era disrupsi dapat digambarkan seperti pusaran angin yang mahadahsyat yaitu siap menerpa siapa saja yang tidak kuat atas kehadirannya. Pusaran angin tersebut memiliki gelombang yang kuat, cepat, penuh ketidakpastian, dan bebas. Pada bidang sastra, dibutuhkan kemampuan bertahan agar eksistensi sastra di Indonesia tetap lestari dan berkembang. Adapun tiga hal penting dalam menghadapi fenomena ini, yaitu (1) sastrawan sebagai pihak utama yang berperan aktif dalam lahirnya karya-karya sastra, (2) media sebagai perantara publikasi karya sastra baik berupa media cetak maupun dengan berbagai platform daring, dan (3) pascarealitas sebagai salah satu paradigma yang perlu diperhatikan oleh sastrawan dalam proses berkarya.

Saat ini, sastrawan tidak dapat hanya beraktivitas sebagai penulis dengan mengandalkan media cetak. Adanya era disrupsi dan fenomena pascarealitas, sastrawan juga perlu mengembangkan keterampilannya di media daring karena hubungan sastrawan dan media kini dibutuhkan apabila sastrawan dan karyanya tetap ingin bertahan dalam pusaran karya yang semakin banyak dan berkembang. Di era ini, sastrawan tidak hanya menjadi seorang penulis, tetapi juga seorang pembaca aktif terhadap karya-karya sastra yang dapat diperoleh di mana saja. Sastrawan juga dapat berperan dalam pempublikasian dan pemasaran karya-karyanya. Berbagai wujud dari ahli wahana karya pun juga perlu dilakukan sebagai bentuk kolaborasi yang kini semakin didayakan. Pertama, dari ruang lingkup kecil, penulis dapat mencoba aktif untuk blogging secara mandiri hingga karya-karyanya memasuki situs-situs sastra yang berkualitas dan kredibilitas. Kedua, penulis dapat bergiat dengan penerbit yang telah menerbitkan karyanya dengan berbagai kegiatan secara daring dan luring. Ketiga, antarpenulis sebaiknya saling memberikan peluang kolaborasi sebagai bentuk jejaring yang produktif. Keempat, penulis dapat mengembangkan karyanya ke dalam platform-platform daring yang sudah dikenal banyak orang dan memiliki banyak pembacanya. Kelima, para penulis dapat memanfaatkan layanan podcast atau audio seperti Spotify dan Souncloud serta dapat secara audio-visual melalui laman Youtube. Keenam, penulis dapat berkolaborasi dengan seniman lain, di antaranya dapat dengan ilustrator atau pelukis, perupa, sineas, pemusik atau penyanyi, fotografer, dan atau aktivitis lainnya baik dari ruang lingkup yang bersifat lokal, interlokal, dan nasional. Ketujuh, penulis perlu menyadari bahwa eksistensi dan keaktifan penulis dibutuhkan untuk tetap mempertahankan karyanya melalui berbagai rupa dan jalan yang terbuka bebas baginya serta tetap mengikuti isu-isu mutakhir sastra baik secara daring maupu luring.

Pascarealitas bagi sastrawan dan medianya menampakkan berbagai jenis dan wujud karya sastra sebagai bagian dari mahadata. Sastrawan dapat lahir dari mana saja dan kapan saja ketika sastrawan tersebut juga terampil dalam dunia daring serta mengikuti perkembangan teknologi media informasi. Kebebasan berkarya sastra pun terjadi serta kebebasan berpikir juga dipertarungkan di era disrupsi. Namun, karya-karya demikian masih belum dapat dinilai kualitas dan kebermanfaatnya apabila eksistensi dunia maya masih hanya mempertimbangkan tingkat statistik pembaca dan tingkat popularitas media. Oleh karena itu, penulis atau sastrawan dengan segala aktivitasnya secara daring dan luring dibutuhkan sebagai wujud perjuangannya dalam membangun karakter tulisannya. Sastrawan tidak hanya mengandalkan kemampuan menulisnya tetapi juga kemampuan berbahasa lainnya dalam perannya menyampaikan gagasan dan untuk menarik peminat karyanya sehingga tidak hanya kompetensi yang diperhatikan tetapi juga menjadi sastrawan yang berkapabilitas di bidangnya.

Wujud perkembangan karya sastra di Indonesia maupun di dunia kini telah memasuki wilayah interdisipliner hingga multidisipliner. Adanya pascarealitas maka dibutuhkan bidang lain untuk saling mendukung dalam memperkuat wujud gagasan yang terkandung dalam sebuah karya. Mengingat kemenangan Bob Dylan meraih nobel sastra pada tahun 2016 silam dapat menjadi acuan bahwa dua bidang yang mulanya mendebatkan kedudukan lirik sebagai bidang musik atau merupakan wilayah sastra hingga akhirnya menjadi fenomena karya yang saling mendukung. Salah satu fakta tersebut memperlihatkan bahwa sastra dapat memasuki bidang lain dan suatu bidang tidak lagi mampu berdiri sendiri apabila ingin tetap bertahan serta difungsikan di era saat ini. Hubungan antarbidang yang selaras dan kontras pun perlu didayakan sehingga melahirkan interaksi wacana yang multimedia dan aktif. Oleh karena itu, kesadaran hubungan tersebut juga dibutuhkan sastrawan dalam menyikapi era saat ini agar tetap berkarya secara aktif.

 

Sebuah Refleksi

Para sastrawan dengan segala prosesnya telah melalui perjalanan panjang dan berat untuk memenuhi aspek-aspek sastra serta pemikirannya dalam melahirkan karya mereka, baik dalam aktivitas membaca, mengamati, maupun berbagai bentuk latihan menulis. Di era kini, para sastrawan dituntut tetap aktif terhadap isu-isu mutakhir khususnya terkait sastra dan pihak-pihak yang berperan dalam bidang sastra pun perlu membuka peluang selebar-lebarnya dengan berbagai bentuk kegiatan untuk melestarikan karya sastra serta mengembangkan kapabilitas para sastrawan di Indonesia. Penerjemahan karya ke bahasa asing, program residensi bagi sastrawan, pengembangan karya sastra, dan panduan literasi sastra Indonesia juga perlu tetap diwujudkan dalam menghadapi perkembangan media dan teknologi yang kini terus bergelombang tak menentu. Ketakmenentuan tersebut perlu dibangun keajegan kembali dan model kepakaran yang baru dalam bidang sastra, baik oleh aktivis sastra maupun akademis sastra.

 

Esai pendek ini ditujukan sebagai syarat peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III