Penulisan Sejarah Sastra: Pembabakan Sejarah Sastra Indonesia (9)

Sastra Baru Indonesia I dan II (SBI) karya A. Teeuw mengklasifikasikan babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia berdasarkan peristiwa sosial politik, yang mempengaruhi perkembangan budaya, bahasa, dan sastra.  Oleh Teeuw sejarah sastra Indonesia dipilah menjadi babakan sejarah dan angkatan sastra (i) sebelum perang, dan (ii) sesudah perang, (iii) tahun 1955 sampai dengan tahun 1965, dan (iv) sesudah tahun 1965.

Babakan sejarah dan angkatan sastra sebelum perang dimulai dasawarsa 1920-an sampai dengan tahun 1942 (simak SBI Bagian I); babakan sejarah sesudah perang dimulai tahun 1942 sampai dengan tahun 1954 (simak SBI Bagian II); babakan sejarah dan angkatan sastra 1955-1965 dimulai dari berakhirnya Angkatan ’45 tahun 1955 dan diakhiri pada peristiwa politik tahun 1965 (simak SBI Bagian III); dan babakan sejarah sesudah tahun 1965 dimulai dari munculnya Angkatan 1966 sampai dengan pada tahun 1978 (simak SBI Bagian IV).

Dalam SBI, babakan sejarah dan angkatan sastra sebelum perang dibicarakan secara luas, sekitar 125 halaman, pada Bagian I dengan judul Kesusastraan Sebelum Perang (lihat hlm. 15-146). Dalam Kesusastraan Sebelum Perang ini dibicarakan berbagai aspek sosial-politik-kultural yang mempengaruhi muncul dan berkembangnya sastra Indonesia, bermacam-macam karya sastra yang lahir, baik puisi mau-pun prosa (cerpen dan roman), dari berbagai perspektif baik intrinsik maupun ekstrinsik, dan tokoh-tokoh pen-ting sastra Indonesia sebelum perang.

Secara rinci ada 33 butir masalah yang dibicarakan dalam babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia sebelum perang. Beberapa di antaranya adalah (1) latar belakang sosial politik yang menopang lahirnya sastra Indonesia, (2) sejarah bahasa Melayu sampai dengan menjadi bahasa  Indonesia yang menopang sastra Indonesia, (3) kaitan nasionalisme Indonesia dan bahasa Indonesia, (4) puisi-puisi Muhammad Yamin sebagai permulaan puisi  dalam sastra Indonesia, (5) roman-roman politis yang mula-mula muncul dalam sastra Indonesia, (6) puisi-puisi yang muncul sampai tahun 1928 terutama puisi Roestam Effendi, (7) peristiwa Sumpah Pemuda 1928 sebagai proklamasi bahasa Indonesia, (8) merebaknya polemik kebudayaan, dan (9) sosok Amir Hamzah sebagai penutup puisi Melayu dan pembuka puisi Indonesia. Pendek kata, sastra sebelum perang yang dibicarakan Teeuw dalam SBI demikian luas.

Babakan sejarah dan angkatan sastra Indonesia sesudah perang dibicarakan cukup panjang lebar, sekitar seratus empat puluh halaman, dalam Bagian II dengan judul Kesusastraan Sesudah Perang. Yang dibicarakan di sini mencakup babakan dan angkatan sastra yang lazim disebut zaman Jepang dan Angkatan 45. Di dalamnya dibicarakan peristiwa kebudayaan dan kesastraan yang penting-menonjol, tokoh-tokoh penting sastra sesudah perang, dan karya-karya penting sesudah perang (baik puisi maupun prosa). Secara rinci paling tidak dibicarakan enam belas hal.

Keenam belas hal itu adalah (1) tonggak waktu pemisahan antara babakan sejarah dan angkatan sebelum dan sesudah perang pada tahun 1945, (2) kegiatan penulisan roman dan cerpen pada waktu pendudukan Jepang, (3)  kegiatan penulisan drama pada waktu pendudukan Jepang, (4) persoalan dokumentasi Angkatan 45, (5)  peristiwa kongres, simposium, dan musyawarah seputar Angkatan 45, dan (6) peranan dan jasa HB Jassin sebagai penjaga gawang sastra Indonesia.

Sesudah itu, dikupas mendalam (7) sosok dan vitalisme Chairil Anwar sebagai pelopor dan tokoh terpenting Angkatan 45, (8) munculnya dan isi Surat Kepercayaan Gelanggang yang memuat tentang humanisme universal, (9) sosok dan peranan Asrul Sani dan Sitor Situmorang dalam Angkatan 45, (10) keberadaan Angkatan 45 dalam pandangan para marxis, (11) perbincangan tentang krisis dalam kesusastraan, (12) perspektif lebih luas mengenai Angkatan 45, (13) sosok, pikiran, dan karakteristik karya Chairil Anwar, Indrus, Pramudaya Ananta Tour, Sitor Situmorang, Utuy Tatang Sontani, Mochtar Lubis, Trisno Sumardjo, dan Achdiat Karta Mihardja, (14) penyair-penyair lapis kedua Angkatan 45, (15) pengarang-pengarang wanita terpenting pada periode dan generasi sesudah perang; dan (16) penulis-penulis prosa lapis kedua Angkatan 45.

Semua itu menunjukkan bahwa babakan sejarah dan angkatan sastra sesudah perang dibicarakan oleh Teeuw dalam perspektif luas, mencakup latar sosial-politik-kultural, ketokohan sastrawan, dan karakteristik karya-karya penting Angkatan 45. Teeuw memberi porsi luas dan mendalam terhadap peristiwa dan fakta sejarah sastra Indonesia sesudah perang kemerdekaan Indonesia. Porsi angkatan 45 sangat besar.

Lebih lanjut, dalam SBI Jilid II oleh Teeuw dibicarakan babakan sejarah dan angkatan sastra tahun 1955-1965. Periode dan generasi ini tidak dibicarakan secara luas oleh Teeuw. Dalam periode dan generasi tahun 1955-1965 hanya dibi-carakan masalah berakhirnya Angkatan 45, tampilnya pe-nulis-penulis baru yang dinamakan “Angkatan Terbaru” oleh Ajip Rosidi, munculnya penyair-penyair dan puisi-puisi yang membawa napas baru, munculnya cerpenis-cerpenis baru, pergolakan dan persekongkolan pandangan an-tara ideologi dan sastra, dan pertentangan ideologi pa-da awal tahun 1960-an yang mendorong munculnya Manifes Kebudayaan. Masalah-masalah ini dibicarakan seperlunya oleh Teeuw (lihat hlm.1-42).

Babakan sejarah dan angkatan sastra sesudah tahun 1965 dibicarakan panjang lebar, sekitar 160 halaman, pada Bagian IV SBI Jilid II dengan judul Periode Sesudah Tahun 1965. Di sini dibicarakan tiga pokok masalah penting, yaitu (i) masalah dan peristiwa kebudayaan dan kesastraan, (ii) puisi-puisi dan penyair-penyair penting pada periode dan generasi sesudah tahun 1965, dan (iii) fiksi-fiksi penting masa kini. Pada yang pertama dibicarakan ihwal lahirnya Angkatan 66, munculnya berbagai media sastra, peranan TIM dan Jakarta bagi perkembangan sastra, ber-bagai kegiatan simposium, konperensi, pembacaan puisi, dan pemberian hadiah sastra, masalah-masalah yang ter-dapat dalam sastra, dan berbagai kritikus penting de-ngan kritik-kritiknya.

Pada yang kedua dibicarakan ihwal puisi perlawanan 1966, banjir puisi, bahasa puisi, konvensi-konvensi puisi, pengaruh asing dalam puisi In-donesia sesudah tahun 1965, timbal balik peranan puisi dan masyarakat, dan penyair-penyair penting dan karya-karyanya sesudah tahun 1965. Pada masalah ketiga dibicarakan ihwal berbagai jenis fiksi, munculnya novel-novel pop dalam masyarakat, penulis-penulis (veteran) tua yang muncul lagi, munculnya novel-novel berlatar daerah, aspek-aspek tematik novel sesudah tahun 1965, aspek-aspek tematik pengarang wanita terutama NH Dini, perspektif wanita Jawa dalam karya Umar Kayam, dunia ganjil dalam karya-karya Budi Darma, karakteristik to-koh-tokoh Iwan Simatupang yang aneh, dan manusia ter-asing dalam novel-novel Putu Wijaya. Semua ini menunjukkan betapa luas cakupan pembicaraan sastra Indonesia babakan sejarah dan angkatans sastra sesudah tahun 1965 sampai dengan tahun 1978 (lihat hlm.43-209).