Kabar dari Luar Kota

Ilustrasi: jackienoname

 

Malam ini malam berat bagi Asnawi. Ia benar-benar berharap keajaiban. Kelahiran tanpa kematian sesungguhnya tak layak dinantikan, begitu keyakinannya sejak dulu.

 

Ia tak kuasa mementahkan pendapat sesepuh kampung. Namun, ia juga meragukan kesiapan dirinya sendiri menerima kutukan keluarga. Ia tak tahu lagi bagaimana meyakinkan warga kampung betapa tak elok menolak jenazah.

Sampai hari ini kampung masih kondusif. Semua berjalan seolah sedang baik-naik saja. Ibu-ibu muda berjejer sepanjang gang sempit menjemur balitanya pagi hari. Para pekerja bangunan tak pernah terlambat memacu sepedanya. Sebagian orang harus mencari cara baru menyambung hidup setelah pabrik mengurangi karyawan dalam jumlah besar.

Rapat semalam bukanlah rapat rutin. Asnawi mengajak warga rapat karena ada seruan untuk mengamankan kampung masing-masing dari pandemi. Undanganpun disampaikan lewat grup WA, tak menggunakan edaran selembar kertas seperti biasanya. Nyaris seluruh warga hadir. Hanya warga yang bekerja di luar kota yang absen.

Agak kaku Asnawi membuka rapat malam sehabis gerimis itu. Lembar surat edaran dari desa yang dibacanya perlahan bergetar mengikuti telapak tangannya. Kaki Asnawi kerap berganti posisi. Kadang bersila, kadang berselonjor. Namun, tak satupun warga memperhatikan apalagi menanyakan hal itu. Semua tampak sepele.

Asnawi menawarkan beberapa pilihan yang bisa diambil warga sebagai antisipasi pandemi. Mulai dari pembatasan aktivitas bersama, penetapan jam malam, sampai penutupan akses kampung sementara waktu. Namun, entah siapa yang menggulirkan wacana sehingga penolakan pemakaman korban pandemi langsung mengemuka. Seperti rapat-rapat sebelumnya, pendapat sesepuh kampung akhirnya menjadi rujukan mufakat. Korban wabah corona tak boleh dimakamkan di pemakaman kampung. Titik.

***

Asnawi menjemput pagi di dekat jendela. Ia berdiri membuang mata ke pekarangan sempit samping rumah. Hisapan tembakaunya terasa berat. HP-nya beberapa kali bergetar. Ini adalah hari ke tujuh ia tak menjawab panggilan telepon anaknya dari luar kota.

Tak biasanya Asnawi memikirkan hasil rapat begitu berat. Cara sesepuh kampung menyampaikan pendapat dengan santun masih melekat di ingatannya. Semua argumen mengalir dari mulut mereka begitu lancar. Mereka tidak salah, sama sekali tak salah, hanya kurang mengerti. Begitu gumamnya menenangkan diri.

Di mata Asnawi dan seluruh warga, sesepuh kampung adalah orang tua. Mereka berjasa besar pada seluruh warga kampung. Kalau tidak ada mereka, mustahil ada sekolah di kampung itu. Asnawi  tak mungkin menutup mata atas campur tangan para sesepuh. Ia sendiri merasakan betapa besar peran sesepuh bagi dia.

Di penghujung SD kelas 6, Asnawi kecil hampir kehilangan harapan. Ia tak tahu apakah bisa melanjutkan sekolah. Kemiskinan tak mungkin membiayai sekolahnya. Lalu, terdengarlah kabar Pak Hamzah akan patungan dengan beberapa kenalan mendirikan sekolah SMP di ujung kampung. Bekas ruko dan beberapa rumah warga disulap menjadi ruang-ruang kelas.

Angkatan pertama dipenuhi anak-anak kampung, termasuk Asnawi kecil. Semua  mendapatkan beasiswa penuh. Pak Hamzah sebagai penggagas dipercaya menjadi kepala sekolah. Sebagai alumnus universitas terbaik di kota, Pak Hamzah sangat konsen pada akhlak siswa. Beliau selalu datang lebih pagi demi mendisiplin siswa.

Hampir semua anak-anak kampung tak sanggup membayar SPP meski sudah mendapat keringanan. Orang tua mereka kebanyakan kerja serabutan. Dengan bayaran tak menentu, sulit menyisihkan dana untuk uang sekolah. Pak Hamzah memberikan kebebasan pada orang tua untuk membayar semampunya. Tak harus tiap bulan, setiap semester pun boleh.

Pak Hamzah sangat marah apabila ada wali murid tidak menghadiri undangan rapat. Tidak datang berarti tidak peduli pendidikan, begitu prinsipnya. Beliau pernah mendatangi seorang wali murid yang tak pernah datang rapat. Wali murid tersebut dicegat di tengah jalan. Pak Hamzah langsung menggelontorkan kata-kata pedas padanya. Asnawi kecil hanya bisa menangis di boncengan sepeda melihat bapaknya dimarahi Pak Hamzah.

Asnawi kecil tidak terlalu pintar, tapi paling menonjol dibandingkan teman-teman sekelasnya. Ia bisa mengumpulkan teman sekelas hanya dengan bercerita di bawah pohon. Meski bukan ketua kelas, ia bisa menenangkan keributan kelas. Ia juga piawai membawa keributan di kelas saat istirahat.

Hal itu ternyata diperhatikan  Pak Hamzah.

“Ada bakat pemimpin di dadamu,” bisik Pak Hamzah di ujung kelulusan.

Asnawi kecil mengangguk tapi tak tahu apa yang dibisikkan di telinganya. Asnawi kecil menamatkan SMP tepat sebulan setelah  bapaknya meninggal. Ketika teman-temannya bersuka ria di acara perpisahan, Asnawi kecil hanya bisa membayangkan tubuh ringkih bapaknya tertimbun reruntuhan bangunan.

***

Pak Hamzah sangat disegani. Seluruh warga kampung pernah menjadi muridnya. Anak-anak warga pun sekarang banyak yang menjadi murid Pak Hamzah. Yang dulunya pernah disetrap di lapangan tak akan melupakan kalimat tegas Pak Hamzah: Silakan benci saya, tapi saya tak pernah benci kalian! Tentu saja anak-anak masih samar apa maksud Pak Hamzah. Semua menunduk dengan membatin umpatan.

Asnawi kecil baru paham kalimat itu setelah dewasa, setelah ia menjadi ketua RT. Asnawi masih bisa merasakan ketulusan Pak Hamzah sampai sekarang. Beliau tak pernah sedikitpun menyimpan rasa benci. Sebaliknya, Asnawi juga tak pernah pernah membenci Pak Hamzah. Yang dibenci Asnawi hanyalah perjumpaan tak sengaja dengan Pak Hamzah.

Kaki Asnawi mendadak kelu setiap kali berjumpa Pak Hamzah. Asnawi belum sepenuhnya membalas kebaikannya. Asnawi berharap Pak Hamzah sudah melupakan sore yang muram ketika ia menyampaikan keputusannya menolak tawaran perjodohan dengan putri bungsu Pak Hamzah.

***

Sejak pandemi menyerang, Asnawi hanya bisa berkomunikasi dengan anaknya via telepon. Ia tak bisa menjenguknya ke kota. Anaknya pun tak diijinkan pulang kampung selama karantina wilayah diberlakukan. Rindu anak dan bapak itu sedikit tersalurkan lewat panggilan-video.

Asnawi mendidik anaknya seperti Pak Hamzah mendidiknya dulu. Disiplin dan mandiri selalu dinomorsatukan. Maka, ketika anaknya berpamitan melanjutkan SMA di luar kota, Asnawi melepasnya dengan tegar. Tak setetespun air mata tumpah meski ada sedikit was-was mengingat anak itu mewarisi tubuh ringkih bapak dan kakeknya.

Setiap kali bertelepon, Asnawi lebih fokus dengusan nafas anaknya daripada kata-katanya. Ia tahu persis bagaimana berat anaknya menahan sesak apabila sedang kambuh. Apalagi cuaca dingin belum juga usai.

***

Kabar dari luar kota membuat Asnawi sulit memejamkan mata hingga subuh. Gedoran warga memaksanya bangun dengan mata mengerjap-ngerjap.

“Kita harus menyelamatkan kampung!” ujar seorang dari mereka.

“Jangan sampai jenazah itu menyebar wabah!”

Asnawi melenguh. Tubuh berkeringat yang baru ia rebahkan setengah jam itu gemetar. Ia tak tahu apakah kutukan keluarga bisa ditunda. Asnawi lupa menjemput jenazah anaknya di perbatasan kampung.

 

Pernah dimuat di Radar Malang pada Oktober 2020