Deformasi Puitik, Afrizal[ian]isme, dan Gegar Budaya

ilustrasi: hanafi

Sejarah perkembangan puisi Indonesia adalah sejarah deformasi puitik; sejarah peremukan tradisi sehingga terbentuk patahan-patahan konvensi puitik. Setiap generasi penyair Indonesia senantiasa melakukan berbagai deformasi puisi-puisi sebelumnya sebagai manifestasi atau representasi perhitungan budaya. Generasi penyair 1920-an, 1930-an, 1940-an, 1950-an, dan seterusnya senantiasa melakukan perhitungan budaya dengan cara melakukan berbagai deformasi puitik. Rustam Effendi, Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, Sutardji C.B., dan lain-lain pada dasarnya melakukan deformasi tertentu atas puisi-puisi sebelumnya atau tradisi puitik yang telah ada. Sampai pada generasi Sutardji C.B., deformasi-deformasi yang dilakukan penyair baru sampai pada taraf peremukan atau penghancuran huruf besar, kata-kata, frasa-frasa, dan sintaksis puisi, paling jauh peremukan semantik bahasa.

 

Pada Sutardji C.B. deformasi puitik memang mulai melangkah lebih jauh. Sutardji mulai merintis deformasi semantic dan wacana yang dalam hal ini berupa peremukan atau penghancuran makna dan wacana. Beberapa puisinya (tidak semuanya) yang terkumpul dalam O, Amuk, dan Kapak menunjukkan secara jelas adanya peremukan atau penghancuran makna dan wacana. Dalam Pot dan Tragedi Winka dan Sihka, misalnya, di situ terlihat adanya peremukan atau penghancuran makna dan wacana meskipun tidak habis-habisan atau total. Peremukan atau penghancuran makna dan wacana secara habis-habisan atau total-radikal terlihat pada puisi dan penyair tahun 1980-an dan 1990-an. Penyair yang mengomandani atau berada di depan dalam melaksanakan peremukan atau penghancuran secara total-radikal atas tradisi makna dan wacana puisi Indonesia tidak lain dan tidak bukan adalah Afrizal Malna. Afrizal Malna bisa disebut sebagai pelopor atau komandan peremukan atau penghancuran makna dan wacana puisi-puisi Indonesia secara total-radikal! Oleh Afrizal Malna, makna dan wacana puisi Indonesia diremukkan atau dihancurleburkan menjadi kepingan-kepingan, serpihan-serpihan, dan onggokan-onggokan kata tak tertata secara bermakna dalam bingkai konvensi semantis. Kata-kata dan wacana-wacana konvensial telah menjadi “mayat-mayat leksikal, semantik dan diskursif”.

 

Jika secara cermat disimak puisi-puisi Afrizal Malna, maka di situ akan bisa dilihat keremukan atau kehancuran makna dan wacana puisi Indonesia. Pada puisi-puisi Afrizal, yang remuk atau hancur bukan hanya huruf besar, kata-kata, frasa-frasa, baris atau larik, dan kalimat-kalimat, melainkan makna dan wacana puitik yang tertradisikan dan dijadikan konvensi. Bahkan kalimat tak penting dalam puisi-puisi Afrizal. Baris dan larik pun demikian. Kohesi dan koherensi yang menjadi syarat dasar wacana sudah tak ada dalam puisi-puisi Afrizal. Itulah sebabnya, puisi-puisi Afrizal tak (mampu) menghadirkan makna dan arti sebab makna dan arti bergantung pada leksikon, sintaksis dan wacana, padahal sintaksis dan wacana sudah tak ada lagi. Akibatnya, puisi-puisi Afrizal tidak bisa dipahami makna dan artinya secara gramatikal dan semantik. Puisi-puisi Afrizal, tampaknya, memang tidak perlu dipahami, tidak perlu diburu-buru makna dan artinya. Pemahaman dan pemburuan makna dan arti percuma saja dan sia-sia; membuat kita menjadi manusia Sysiphian. Puisi-puisi Afrizal, sekali lagi, hanyalah onggokan, serpihan, dan kepingan bahasa yang mencampakkan atau menolak kehadiran makna dan arti dengan cara menghancurkan kata, frasa, sintaksis, dan wacananya. Puisi-puisi Afrizal membangun atau membentuk bahasa puitiknya sendiri, yang melampaui bahasa sastra yang dikonvensikan, apalagi bahasa sehari-hari yang telah dijinakkan ke dalam denotasi. Puisi-puisi Afrizal pada umumnya menggunakan struktur pasca-subjek.

 

Ciri puisi-puisi Afrizal seperti tersebut di atas tak hanya berbeda dengan puisi-puisi generasi sebelumnya, misalnya puisi generasi Muhammad Yamin, Amir Hamzah, J. E. Tatengkeng, Chairil Anwar, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, dan Sutardji CB. Puisi-puisi Afrizal juga berbeda dengan kawan segenerasinya, misalnya Acep Zam Zam Nor, Jamal D. Rahman, Ajamudin Tifani, Sitok Srengenge, Beni Setia, Agus R. Sarjono, dan Dorothea Rosa Herliany. Dengan kata lain, baik secara historis-diakronis maupun sosiologis-sinkronis, dalam peta bumi perpuisian Indonesia, puisi-puisi Afrizal benar-benar khas Afrizal sehingga bisa menciptakan doktrin dan anutan paham tertentu, yaitu sebuah doktrin dan anutan paham puisi yang telah meremukkan tradisi literer, menghancurkan wacana, menolak makna dan arti, dan menolak pemahaman dari siapapun dalam pengertian konvensional. Puisi-puisi Afrizal meminta atau menuntut dibaca dengan alat baca dan cara baca yang berbeda atau tersendiri. Doktrin dan anutan paham ini, demi mudahnya, dapat kita sebut Afrizalisme.

 

Afrizalisme, tampaknya, sudah mrucut atau terlepas dari genggaman Afrizal Malna. Maksudnya, Afrizalisme bukan milik Afrizal Malna seorang diri. Sekarang ia sudah bertiwikrama atau bermetamarfosa menjadi anutan yang dimiliki oleh komunitas penyair karena diikuti atau dianut oleh penyair lain. Cukup banyak penyair lain yang mulai dan sudah menciptakan puisi dengan gaya Afrizalisme. Dengan kata lain, Afrizalisme sudah merambah ke dalam peta bumi perpuisian Indo-nesia dan mendapat pengikut cukup banyak. Apabila kita cermati penyair dan puisi yang mulai muncul pada tahun 1980-an dan 1990-an, di situ kita akan menjumpai gaya dan warna Afrizalisme. Meskipun tidak semuanya, gaya dan warna Afrizalisme ini tampil cukup mencolok dalam peta bumi puisi Indonesia dan penyair Indonesia yang muncul (mulai menyair) tahun 1980-an dan 1990-an. Sekadar sebagai contoh, puisi-puisi Kusprihyanto Namma, penyair yang pernah melontarkan isu sastra pedalaman itu, pada dasarnya memantulkan gaya dan warna Afrizalisme. Demikian juga puisi-puisi Nanang Suryadi (Malang) dan T Widjaya (Jambi). Judul, pilihan kata, pilihan metafora dan simbol, pilihan tematik, dan penggunaan bahasa ketiga penyair ini memancarkan gaya dan warna Afrizalisme secara kuat.

 

Kalau kita cermati berbagai antologi puisi (yang banyak diterbitkan sendiri oleh penyairnya atau komunitasnya), dapat kita katakan bahwa Afrizalisme ternyata banyak diikuti oleh para penyair yang baru muncul atau baru mengawali kariernya. Para penyair ini tak hanya tinggal di Jakarta seperti Afrizal (sekarang sudah hijrah ke Yogyakarta), tetapi juga tinggal di berbagai daerah yang jauh dari Jakarta. Bahkan tinggal di kota-kota kecil yang masih terasa kental suasana agraris dan komunalnya ketimbang suasana industrial dan impersonalnya. Ini sebenarnya agak mengherankan karena, pertama, atmosfer kreativitas yang agraris dan komunal justru bisa menghasilkan penyair dan puisi yang bergaya dan berwarna Afrizalisme yang beratmosfer industrial dan impersonal, dan kedua, akar-akar dan dasar-dasar pengetahuan kesastraan (non-Afrizalisme) yang diperoleh di sekolah tidak menunjang kreativitas para penyair yang bergaya dan berwarma Afrizalisme yang mukim di daerah-daerah. Demikianlah, Afrizalisme yang beratmosfer dan berwatak industrial dan impersonal merambah wilayah-wilayah yang beratmosfer dan berwatak agraris dan komunal. Hal ini terutama dibawa oleh penyair-penyair yang mulai muncul pada akhir 1980-an dan 1990-an.

 

Tumbuhnya Afrizalisme di wilayah-wilayah agraris dan komunal yang jauh dari Jakarta atau wilayah urban-industrial dan dianut oleh cukup banyak penyair pemula bisa menimbulkan bahaya kultural. Soalnya, Afrizalisme yang berwatak industrial dan impersonal itu hanya memiliki modernitas atau postmodernitas, tak punya akar tradisi yang jauh merasuk ke dalam budaya Indonesia. Tradisi tak dimilikinya sebab ia sedang merintis tradisi baru. Jelas ia akan menimbulkan benturan-benturan kultural bila “ditanam” di wilayah yang jauh dari Jakarta yang berwatak agraris dan komunal yang justru sarat dengan tradisi. Penyair pemula di daerah yang menganut Afrizalisme bisa terbetot dari akar dan dasar tradisi (yang masih mengutamakan keutuhan wacana, keberadaan makna dan arti, dan pentingnya pemahaman ini). Mereka akan melayang-layang karena kehilangan tra-disi (yang sudah ditolaknya secara otomatis begitu mereka menganut Afrizalisme) yang bisa memberikan legitimasi kultural-historis bagi kepenyairannya pada satu sisi dan pada sisi lain Afrizalisme yang sangat industrial dan impersonal belum “membumi”. Keadaan melayang-layang terlalu lama bisa menimbulkan suatu gegar budaya (culture shock) pada mereka. Menurut kesan saya, para penyair pemula di berbagai daerah yang menganut Afrizalisme terancam gegar budaya ini. Gegar budaya yang terlalu lama akan membuat tamatnya kepenyairan mereka atau setidak-tidaknya sangat menguras stamina kepenyairan mereka sehingga mereka pun bakal atau terancam gagal menjadi penyair. Bisa jadi umur kepenyairannya akan pendek. Ini menunjukkan bahwa Afrizalisme bagai kotak pandora: pada satu sisi memperkaya pengucapan puitik dalam puisi Indonesia, bahkan memperkaya tradisi puitik Indonesia; dan pada sisi lain dapat menyebabkan gegar budaya di kalangan pernyair. Afrizalisme bisa menjelma menjadi sebentuk Sphinx: mahkluk perbatasan antara manusia dan hewan yang bisa manusiawi dan hewani sekaligus; memperkaya tradisi puitik sekaligus membunuh tradisi puitik yang ada. Ringkasnya, Afrizalisme dalam puisi-puisi Afrizal Malna telah menghancurkan bahasa lama dan diskursus bahasa lama sekaligus menyodorkan bahasa baru dan diskursus baru puisi Indonesia. Afrizalisme menuntut alat baca dan cara baca yang benar-benar baru.