Lika Liku Akulturasi Budaya Dosen Tamu

 

Judul: Tamu Kota Seoul
Penulis: Yusri Fajar
Tebal: xii + 232 Halaman
Penerbit: UB Press, Desember 2019
ISBN: 978-602-432-907-5


Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Seorang tamu wajib memahami budaya di mana ia berlabu. Misal saja seorang menjadi dosen tamu bagi orang Indonesia di Seoul. Ketidak matangan memahami budaya setempat, akan melahirkan konflik-konflik. Baik yang biasa maupun fatal dan perlu diselesaikan di meja persidangan. Kasus serupa yang diceritakan oleh Yusri Fajar dalam novelnya berjudul Tamu Kota Seoul (UB-Pres, 2019). Sebelum menemui konflik, pembaca mula-mula diajak keliling Seoul dengan pengamatan dan pembacaan yang detail.  Seperti ada suara berbunyi dari dinding-dinding Kota  Soul, apartemen, Nowon-Ro 1 Gil 93, dan Hankuk Universiy Of Foreign Studies (HUSF). Dan suara itu terkemas dalam kisah perjalanan seorang tokoh bernama Jagat.

Secara letak geografis Indonesia dan Seoul merupakan wilayah dekat. Namun, walaupun dekat kultur dan budaya tentu tidak sama, wajar ketika kaget bahwa tidak memiliki kesamaan. Tapi, seorang pendatang tentu akan menjadi orang asing, dari bahasa pun asing, dan ketika merasakan cuaca di negara tersebut pasti berbeda. Namun, yang paling sulit yaitu bisa beradaptasi dengan lingkungan dalam realitas mencari teman itu sangat susah, lebih mudah mencari musuh; hanya cukup berkata tidak baik akan dimusuhi, maka berhadapan dengan masyarakat itu lebih susah, ketika berhadapan dengan orang terdidik. Pertanyaannya apakah akan diterima dengan baik!

Gegar budaya hal biasa, apalagi akan dibedakan dengan Indonesia, kebiasaan Indonesia pasti ada yang tidak berlaku di Seoul. Kebiasaannya orang Indonesia ketika berjalan-jalan ke suatu tempat, terutama liburan ke lintas negara, sangat lumrah di perjalanan kurang afdol ketika tidak memotret atau mengambil momen yang dianggap paling baik dan berkesan. Hal paling sederhana mengambil foto dengan objek pemandangan yang mencakup manusia, tidak diperbolehkan, sebab foto di sana merupakan sebuah privasi yang khawatir kerap disalahgunakan lalu merugikan.

Pengalaman tersebut terjadi pada Jagat yang ada dalam tokoh novel tersebut; Jagat sebagai dosen tamu bukan asli negara tersebut. melakukan hal yang wajar baginya, namun berbalik anggapannya. Jagat dengan hobinya memotret, ketika suatu saat dalam gerbong kereta. Niatnya hanya mengambil pemandangan di luar kereta api karena bagus, secara tidak dikira ada yang tidak terima ternyata ia mahasiswi tempat Jagat mengajar. Mahasiswi tersebut marah-marah karena mengira, kalau arah kamera menghadap padanya. Di negara tidak menikmati. Bukan main-main mengenai hal privasi di negara tersebut, ketika melanggar aturan. Jika itu orang asing ancaman di deportasi. Tepat di Stasiun Sinimun dalam gerbong kereta di permalukan, Jagat sebagai orang asing.

“Hai, kamu tidak melakukan itu,” sebaiknya tidak menggunakan kameranya di dalam kereta di atas gerbong kereta. Lihat! Banyak orang di sini,”  kata gadis Korea itu sambil tangannya menunjuk ke beberapa sudut gerbong. (hal:42).

Gegar budaya yang menemukan ke-asingan waktu pertama kali datang ke Seoul sebagai dosen tamu menjadi dosen sastra asing, karena Jagat berpaspor Indonesia mengajarkan sastra Indonesia. Jagat sangat semangat mejadi bagian dari dosen di HUFS, karena bukan hanya dosen biasa, dan sangat sadar pertama kali masuk ke Perpustakaan. Bahwa secara signifikan Negara Korea kecintaannya akan karya-karya sastra lintas negara sangat antusias; bahwa di Negara Korea karya-karya sastra penulis Indonesia diajarkan begitu intensif. Dan di Perpustakaannya karya anak negeri sendiri banyak. Mulai dari Karya Pramoedya, Eka Kurniawan, Afrizal Malna, Laila S. Chudori dan penulis lainnya. Terpajang di Perpustakaan di Hankuk University Of Foreigen Studies (HUFS).

 

Kebutuhan Biologis Diaspora Seoul

Banyak cara merayakan hidup. Seorang akan merayakan sebuah peristiwa besar dengan cara unik dan ditemukan pada sosok Jagat. Dalam perjalanan ke Seoul tidak hanya bisa berbagi ilmu pada mahasiswa (i). bahkan dalam impiannya berharap memiliki karya ketika tugas telah usai, entah berupa karya sastra puisi, cerpen, dan novel. Dan itulah sosok penyair yang ingin selalu membaca, mendengar, dan merasakan. Lalu menjadikan sebuah teks dengan diksi indah tertuang di dalamnya. Itulah tugas penyair dan penulis.

Sebagai dosen tamu dan memiliki keluarga tentu kebutuhan biologis harus menjadi pertimbangan. Dan hanya dengan menyikapinya akan menjadi hal positif kepadanya; sebab kerinduan kepada Istri dan Anak masuk pada ranah kebutuhan primer sebagai lelaki normal, dan bukan tidak mungkin keharmonisan rumah tangga tidak menjadi perhatian secara biologis. Apalagi mengenai hasrat bertemu dengan istrinya dan anaknya, menjadi sangat utama bagiannya.

Jagat seorang dosen memiliki istri dan anak yang ditinggalkan di Indonesia tepatnya di Malang. Jarak akan mengukur segalanya menjadi ujian terbesar ketika jauh; hal ini akan menjadi kebutuhan hidup manusia dengan rasa rindu dengan dasar cinta. Kerinduan itu akan dirasakan di Seoul oleh Jagat ketika sendiri di Apartemen, bahwa kebutuhan biologis dalam hidup sangat dirasakannya, bagi manusia yang normal wajar. Namun,  hanya dengan video call bisa mengobati gelora hasrat rindunya. Selain itu hanya dengan membaca dan menulis sebagai pelampiasannya.

“Hal ini mengingatkan kepada tokoh bernama Malquedes, seorang Gipsi, yang berada dalam novel Gabriel Garcia Marques yang berjudul One Hundred Years Of Solutide (Seratus Tahun Kesunyian) yang dipublikasikan sejak tahun 1972. Tokoh Malquedes mengatakan dalam waktu dekat, orang akan mampu melihat apa yang terjadi di tempat lain di dunia ini tampak perlu meninggalkan rumahnya” (Hal 75).

Jagat selama mengajar dibenturkan dengan ujian keluarga begitu besar. Mulai kebutuhan biologis sebagai lelaki normal, ujian hubungan cinta saat jauh dengan keluarga di Seoul ada Hyung Hee sosok dosen idola kaum Adam, yang menjadi ujian terbesar Jagat, ia  seorang dosen di Hankuk mengajar sastra Korea sama dengan Jagat. Sering kali kedekatannya menuai prasangka kepadanya, walau pada dasarnya kesetiaannya dengan Kanti, istrinya tidak diragukan. Dengan kedekatan dan tatapan mata berbeda kepada Jagat itu yang dirasakan. Ia masih merasa bahwa cintanya dengan Kanti mendapatkan ujian.

Selama di Seoul Jagat merasa ada hubungan jarak jauh dengan Kanti. Tika anaknya kala bermain pada saat liburan curiga dengan ayahnya akan kedekatan ayahnya dengan Hyung Hee, menghadirkan kecemburaan. Jagat merasa kekacauan akan dirinya. Bahwa ia tidak berdosa atas asumsi-asumsi Puitika. Kegelisahan itu akan menjadi kuat atas kepribadian Jagat.

Jagat sebagai narator dalam cerita terjadi perang batin dan psikologis pada dirinya.  Memahami tentang banyak hal; rasa cinta, tanggung jawab, dan kepedulian budaya dan ketidakadilan akan birokrasi negeri ini, dan  khusus pada bidang sastra. Ia hanya mengingat pesan seorang Ibunya, “bahwa pantang seorang dosen tamu pulang dengan pecundang”, dan akan terus bertahan menjadi dosen hingga waktu tugas selesai. Jagat, walau ada rasa khawatir akan istri yang ditinggal jauh masih percaya akan kesetiaaanya, perang batin begejolak.

Kesetiaannya tetap terpatri dengan mengingat pada masa lalunya. Hal itu akan menjadi bukti keduanya. Jagat  masih ingat dengan awal kisahnya bersama Kanti menyukai perbedaannya dalam buku itu ditemukan pada cerita masa lalu. Pada suatu ketika Kanti membaca novelnya Ratna Indraswari Ibrahim dan Kanti mengingat-ingat pertama menjalin hubungan dengan Jagat. Idealis yang dimilikinya merupakan representasi cintanya.

“Kanti mengingat Jagat pada masa mudanya, ketika membaca novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, di depan gedung DPRD Kota Malang sejak menjadi mahasiswa membaca puisi dan berorasi meminta kebijakan, sedangkan  Kanti menjadi seorang mahasiswi yang akan selalu mendukung akan idealis pasangannya” (hal 125).

 

Dedikasi Dosen Tamu di HUFS-Seoul Korea

Dedikasi seorang dosen kepada mahasiswa (i). Ketika kembali kepada Hankuk di mana ada proses belajar. Bahwa Jagat memiliki tugas mengajarkan sastra Indonesia dengan cara paling sederhana, pertamanya hanya dikenalkan dengan bacaan karya sastra dari Indonesia. Ketika berada di Perpustakaan begitu lengkap, dengan gaya belajar bertanya Learning Start whit a Question.  Sebagai seorang dosen tamu akan menanyakan sebuah kebiasaan yang tidak harus dilakukan di Negara tersebut, lalu memberikan pengantar pertemuan dengan ketentuan akan meluluskan mahasiswa yang mengikuti kuliahnya penilaian  secara subjektif dengan ketentuan keaktifan di kelas, dan kualitas tugas.

Cara tersebut sebenarnya telah didedikasikan seorang Pramoedya Ananta Toer dalam proses menulis buku berjudul Arus Balik (Penerbit Hasta Mitra 2002 cetak ke-V, awal terbit 1995, Pram mengambil data pada awalnya dari mahasiswanya, sebelum terjun langsung melakukan observasi di tempat-tempat yang didapatkan dari mahasiswa. namun  tidak lepas dari kecerdasan serta kelihaian dalam mengarang. Hingga menjadi buku yang tebal 759 halaman, buku tersebut hingga kini tetap menjadi buku paling asyik dibaca untuk memahami nusantara dengan beberapa sudut pandangnya.

Barangkali Yusri Fajar dalam buku Tamu Kota Seoul yang begitu detail berkisah mendeskripsikan tempat, proses Pram ditiru. Sebab dirasa sangat bisa melakukan mimesis selama melakukan perjalanannya di HUFS Korea. Dan kisah tersebut seperti teks cerita di foto copy; menceritakan dengan begitu detail dengan begitu hati-hati menulis dan menyebutkan nama tempat, budaya, dan dinamika kampus. Walau disadari ia menjadi pendatang dan mengajarkan sastra Indonesia di negara lain, seakan tidak dapat dipungkiri kalau hal tersebut menyangka akan menjadikan sastra Indonesia menjadi sastra ideal pantas diajari serta di dalami oleh negara lain. Hal itu tidak dilakukan olehnya dalam menulis buku berkaitan dengan diaspora. Dan rasa khas keindonesiaanya didedikasikan dalam keseharian.

 

Pernah disiarkan di Malang Post pada 08 Maret 2020