Mengalami Kesaksian Hidup Menggambar Manusia: Sajak-Sajak Wahyu Prasetya

 

Di awal 80-an, perkembangan pepuisian kita merambah pada daerah-daerah pengucapan segar, agaknya ini juga ditandai kemunculannya bersamaan dengan mekarnya pemikiran sufisme di taman pepuisian. Di sisi lain taman, di awal tahun yang sama juga banyak ditemukan puisi-puisi gelap: istilah lainnya puisi hermetis atau puisi tertutup. Bentuk puisi seperti itu dianggap sukar untuk dipahami maknanya bagi para pembaca puisi secara heuristik maupun hermeunetik. Sebab sifatnya sangat pribadi, seolah tidak mau ditangkap maknanya, apalagi dimengerti pun tidak kunjung dipahami.

Pada taman pertama, umumnya kita jumpai jenis puisi konvensional, yaitu puisi-puisi lirik, yang mana pada waktu itu juga telah banyak ditulis para penyair terkemuka di awal kepenyairannya. Terutama bagi mereka yang percaya pada kepenyairan diawali dengan menulis puisi jenis itu, maka anggapan bahwa menulis puisi lirik sangat penting merupakan suatu persembahan para penyair—yang notabene juga digemari dan terkemuka. Sedang di taman kedua, dapat kita lihat bagaimana upaya sebagian penyair mendobrak tatanan puisi yang konvensional itu, berarti juga mempertimbangkan serta mempertanyakan kembali lewat pengamatan dan penafsiran ulang dengan konsepsi yang acak, serta aras idiomatik yang ganjil.

Perlu juga diketahui, bahwa masing-masing taman pepuisian diwarnai oleh regulasi-regulasi yang ketat dalam kurun 80-90an, dan segalanya dibatasi hingga luruh dalam pengaruh. Oleh kegiatan politik semasa pemerintahan Soeharto dengan orde barunya, dikarenakan semua atas nama stabilitas nasional. Dan terbukti, tak dapat dipungkiri jika gerak alur sejarah alam seolah telah mengembangkan daya dari semakin ditekan kita dapat merasa bebas, ketika bebas akibatnya tekanan datang dari mana saja. Tapi gairah daya guna improvisasi tak boleh redup.

Dengan begitu senantiasa lahir suatu pandangan yang berwawasan estetik, artinya suatu karya tidak hanya bernilai indah, tapi juga mempunyai nilai kebudayaan, kemanusiaan, dan politik. Wawasan universal ini mungkin akan membawa sastra yang dinamis-elastis-plastis bersama masyarakat Indonesia menuju suatu tatanan nilai yang tepat guna bagi konstitusi dan tepat daya hidup bagi kemanusiaan yang beradab.

Pada puncak kulminasi depolitisasi secara totaliter sedikit banyak mempengaruhi gaya pengucapan dan momentum puitik masa itu. Puisi sebagai karikatur bagi zamannya, selalu punya cara memilih posisi keseimbangan di tengah kemajuan seribu satu jenis mode hidup, selalu bisa mengolah ragam ketakutan dan segala ancaman bakal menerpa menjadi kuda-kuda yang mungkin sukar dijatuhkan. Kiranya demikian, gambaran puisi di lapangan bacaan umum, di mana kedua taman tersebut saling berhadapan; menghadirkan serta mewarnai keindahannya masing-masing dengan konsekuensi ambiguitas dan kompleksitas. Tergantung bagaimana cara pandang kita.

Maka terbitnya buku Wahyu Menulis Puisi memuat 211 puisi ini menawarkan kesempatan kepada kita sebagai bacaan peradaban untuk lebih merenung, menimbang, mengakrabi, mencatat lagi semua gejala dengan akal yang meluas dan penghayatan yang mendalam. Meskipun pada kumpulan puisi Wahyu Prasetya ini, lebih banyak puisi ditulis dan dibaca sekitar kurun tahun 90-an merupakan paling dominan dalam keseluruhan puisinya yang dimuat ketimbang awal kepenyairannya di tahun 80-an, bahkan sedikit sekali kita bisa jumpai fase kematangan penyair, mungkin juga peralihan kepenyairan Wahyu pada awal 2000-an.

Puisi-Puisi Wahyu Prasetya adalah puisi lirik yang kadang bersifat reportatif, subyektif, sinistik, pesimistik, sugestif, dan seterusnya yang lahir bersamaan dengan berpikir dan merasa. Wahyu seolah menyadari dirinya sebagai reaktor, sekaligus kreator, lantas inovatorkah puisi-puisinya? Baik secara pengucapan, tawaran gagasan, teknik, bentuk, dan juga gaya; senada misuh, makian, umpatan yang idiom puitiknya sedap khas Malang-an. Tematik puisinya pun beragam semisal Jakarta, peperangan, kebendaan, binatang, alam, dan khususnya pada manusia.

Melalui kumpulan puisinya, Wahyu mengantarkan berita puisi kepada Tuhan, mengirimkan surat puisi kepada manusia, dan mengajak kita semua bukan sekedar baca ini-itu melainkan “membacalah” pada setiap momen puitik yang berlangsung di kehidupan sehari-hari.

Itulah mengapa ada satu kata fundamen, mungkin juga inti yang saya genggam untuk kemudian mencari lagi dan terus mencari dalam puisinya yaitu kata “pengalaman” diubah menjadi “mengalami”. Mengalami artinya, memuat tiga anasir seperti melakukan, merasakan, dan mengatakan. Tapi mengalami itu sendiri juga bagian dari wadah konsep membacalah, berarti juga mendengar, mengamati, menghayati, mencari, melakukan, dan merasakan.

Sebagaimana yang Wahyu hadirkan bersama puisinya adalah ungkapan bahasa tetangga, luapan warta puisi, wasiat amarah suci, manifestasi testamen politik, ataupun traktat toleransi—yang kesemuanya itu belum cukup menampung puisi-puisi peradaban Wahyu mengalami kesaksian hidup.

Dengan memegang teguh nilai-nilai religiusitas, spiritualitas, kesetiaan, penyucian, penyesalan, yang mengolah orisinalitas nasib serta ke-otentik-an takdir senantiasa bernama Wahyu. Itulah mengapa puisi-puisinya amat gamblang menyiratkan lalu lintas sosial serta sederet persona lainnya, berpikir dari peradaban ke suatu tatanan yang Wahyu citakan serta idealkan sendiri dalam bayang-bayang utopis, dan merasa bahwa Tuhan selalu bersamanya pada setiap kemabukan apa saja yang menerpa.

Setiap puisi, bagi Wahyu, ialah mengutamakan plastisitas ide dan elastisitas gagasan yang mengarahkan perkembangan kepenyairannya ke wilayah pengucapan semaunya, ke lirik-lirik yang ornamentisitas, menuju gaya dan teknik yang menjadi pembeda secara bentuk di antara kedua taman pepuisian kala itu: lirik konvensional dan simbolistik.

Beberapa penyair mungkin berhasil menempatkan kata sebagai suatu transendental, kadang juga sangat metafisis. Tetapi Wahyu, membebaskan kata apa saja yang datang lalu menerimanya dan dimuat sebagai puisi, terkadang memang cenderung abai pada tekanan-tekanan konvensional pepuisiaan. Namun secara visi dan pandangan kesenian Wahyu kadang selaras, tapi dalam visi dan pandangan kehidupan Wahyu justru menjadi kritikus yang puitik; menempatkan dirinya pada oposisi. Dengan kata lain, pemaknaan dan penafsiran atas puisi-puisi Wahyu tersebut bisa jadi berujung kenes lantaran retoris belaka. Akan tetapi itupun tidak menutup kemungkinan lain bagi pengayaan makna setiap puisinya.

 

Esoterisme Wahyu Bersumber Spiritualitas Manusia

“Salam dari rimba!” begitu bunyi pesan terakhir Wahyu. Sebuah etos dari seorang konservasi tulen, meski pembawaan laku hidupnya selalu bisa menyangkal penghormatan kepahlawanan kepada dirinya. Mungkin, baginya, tak ada yang lebih penting dari sekadar mengurus peradaban dan menata ulang zaman yang sedang kemiringan. Dari sumber spiritualitas manusia melewati alam dan kehidupan, Wahyu menulis gerak peradaban, mencatat gejala zaman, menggambar manusia dalam setiap puisi-puisinya.

Sebagian puisinya kental esoterisme, tapi bukan mistis, melainkan sesuatu yang mencekam. Suasana yang timbul kadang heroik, laiknya seorang orator yang sedang berpidato, meski bukan demikian tepatnya. Namun, hemat saya, Wahyu melakukan oral histori yang puitik. Hal ini tergambar dalam puisinya ‘Stamboel Dewi’ berikut:

Jaman yang kini meminta museum untuk dikenang, mengubur
Seribu gramofon dan babak tonil dalam dunia. Saat asia
Meluncur dalam iklan serta lipstick untuk merangsangku,
Kamu terus tergoda oleh tarian yang melindungi kegagalan.

Tak henti henti untuk melukiskan sesuatu yang tak perlu
Melahirkan arti. Karena sebagaimana anak anak kita yang
Tiba tiba menghardik dengan bahasa peradaban sekarang.
Memukuli apa saja sebagai musik. Memenuhi setiap ruangan
Dan gerak kota yang gemuruh. Lalu kita bergegas untuk
saling berdusta, agar gairah menjelma dalam kemaluan yang
selalu menegang,
untuk mengirimkan salam yang jujur saja teramat sulitnya,
katamu. Dan akupun sedang mengarang syair lagu pop bagi
kemajuan teknologi dan harga diri sekarang. Meski harus
membungkam ibu bapak dalam busa deterjen.

Jaman yang kini menciptakan pil, kontrasepsi serta senjata,
Membawaku sebagai binatang yang menunggu mangsa.
Menelan kemanusiaan maupun alam. Sampai tak kuat
perut dan syahwat,
Sampai terlampau jemu aku mengunyah orang.
Tapi tetap saja gelisah. Manakala hari hari menggedor dalam
Ingatan, bahwa sejauh ini cuma kepada angin aku berdoa.
Memuja kursi, meja, kamar hotel, rumah makan
dan perempuan.
Sejenak saja ingin rasanya kita bermain dengan hati yang
Tulus terjaga. Namun jaman tak punya ketulusan. Jaman kini
Adalah merebut atau direbut.

Tak henti melagukan, dalam diskusi, seminar bahkan dalam
Dongeng, semua menjadi gosip di perkampungan.
Semua menjadi hafalan di bangku pendidikan.
Semua menjadi celoteh di stasiun, pelabuhan dan
lokalisasi. Semua menjadi malam hari!
Hingga tak lagi memimpikan, aku di mana
kamu di mana saat ini,
karena di antara benda benda yang kita miliki, bayang bayang
Itupun seolah setia mengancam.

Suasana mencekam sampai dan kegelisahannya menyentuh, meskipun perasaannya masih terbawa amarah dan penyesalan yang entah. Daya kejut sajak ini banyak merangkum satuan tema khusus: religiusitas, personifikasi benda, alam, manusia, binatang, kota, dan kebudayaan dalam masa peradaban saat itu. Hal ini dimungkinkan oleh refleksi pengalaman dan penghayatan yang telah diendapkan dalam imaji visual, yang konkret, sehingga apa yang tersirat dalam pemaknaan dengan gamblang bisa di bawa ke mana, ke arah mana dan kapanpun saja. Ke suatu keadaan maupun waktu yang semula bergerak dari teks, konteks dan kontekstual. Karena bangunan rancang puitiknya juga saling menopang.

Begitu proses kepenyairan Wahyu, dapat dikatakan sebagai percobaan, kalau tidak boleh dibilang selalu, berdiri di posisi keseimbangan antara puisi liris-sufisme dan idiomatik puisi gelap. Tentu kita mafhum bahwa sebuah sajak “pembuka” di atas, tak mungkin mewakili keseluruhan kumpulan sajaknya, tapi paling tidak itu akan menimbulkan aneka impresi. Minimal menjadi bahan bila dikaji lagi. Sebab garapan diksi dengan gaya urban demikian boleh dibilang mencakup esoterisme dalam berbagai hal perspektif dan persepsi yang lain.

Sebagaimana Wahyu telah menajamkan apa yang biasa hanya tinggal ucap angin lalu seperti melakukan, merasakan, dan mengatakan. Kemudian apa yang kita saksikan (membaca) dari Wahyu, merupakan puisi gelap yang tepermanai di tengah gerak zaman yang lalu hingga sekarang. Tapi, kembali ke diri masing-masing, tergantung bagaimana kita memandang ulang dan memaknai kelanjutan puisi gelap dewasa ini. Adapun yang tak kalah penting juga adalah menyadari betapa daya hidup dan laku kehidupan Wahyu telah dianugerahi sajak-sajak yang berkata apa adanya, bersama penghayatan yang mendalam dan perenungan yang matang.

Sementara membaca Wahyu mengalami, atau kita mengalami Wahyu, merupakan suatu upaya menempa diri dan mengasah bakat kreativitas pada segala musim kebudayaan dan cuaca kebangsaan.

2019-2020

 

Pernah disiarkan di Buletin Lintang edisi 17 Maret 2020