Karya Ilmiah Versus Esai

Apakah yang kita ketahui mengenai karya ilmiah? Suatu karya ilmiah atau ilmu selalu berpretensi, malah acapkali kelewat berambisi, memahami dan menjelaskan semesta, kehidupan, dan manusia beserta segala peristiwa di dalamnya. Lewat peralatan dan perangkat ilmiah yang dimiliki dan sering dibilang canggih, alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya dicoba dijinakkan dan ditundukkan – mungkin dibekukan kalau tidak malah dilumpuhkan atau dibunuh – ke dalam logika, rasionalisasi, objektivasi, konseptualisasi, generalisasi, formulasi, argumentasi, dan sofistikasi filosofis-akademis dengan presisi sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya tampak sebagai sehimpunan fakta dan data.
Wajarlah, di tangan ilmu atau ilmuwan, alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya menjadi dingin, tunggal, kaku, kering, terasa mati, tertutup, sederhana, dan mungkin menjenuhkan lagi membosankan. Berhadapan dengan ilmu, pembaca karya keilmuan pada akhirnya menjadi manusia tak berdaya, dalam arti perlu patuh, karena tak punya celah kebebasan. Dalam istilah Ignas Kleden, “ilmu atau karya ilmiah adalah tulisan yang berada dalam tapal batas spesialisasi dan dalam tembok kompartentalisasi”
Berbeda dengan ilmu, suatu esai dan karya literer atau karya sastra hanya berpretensi, hanya berambisi (kalau bisa dibilang begitu) dan berhasrat merayakan, menyaksikan, dan mengabarkan alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya termasuk segala pernak-pernik peristiwa di dalamnya. Melalui peralatan dan perangkat esai dan karya literer yang dimiliki, alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya dicoba dilepaskan, dibebaskan, dan dibiarkan – mungkin malah diliarkan nan dialirkan – ke dalam refleksi, sublimasi, subjektivikasi, kontemplasi, otentifikasi, imajinasi, retorika, deformulasi, dan narasi tekstual dengan kelonggaran sangat besar, bukan presisi.
Hal itu membuat alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya lebih tampak sebagai pijar-pijar makna yang beraneka ragam sekaligus berkelebatan. Tak aneh, di tangan sebuah esai, alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya kelihatan begitu hidup, terbuka, cerah, hangat, semarak, rancak, riuh, syahdu, sublim, aneka warna, menyenangkan, dan malah mungkin menggairahkan-menggemaskan. Tak heran, berhadapan dengan sebuah esei, pembaca pada akhirnya menjadi manusia perkasa karena punya kebebasan sedemikian besar memperlakukan esei.
Ringkas kata, ilmu [karya ilmiah] dirundung ambisi untuk memberikan pemahaman dan penjelasan atas pola-pola atau keteraturan-keteraturan alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya termasuk segala peristiwa di dalamhya, sedang esai dan karya literer hanya digenangi hasrat untuk memberikan kesaksikan dan kabar atas detak-detak alamiah alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya kendatipun keduanya bertumpu pada peristiwa, fakta, dan data.
Ambillah satu contoh, yakni peristiwa dan fakta sosial politik seputar tahun 1965 [sebut saja Peristiwa 1965]. Di tangan pakar terkemuka seperti Ben Anderson, Nugroho Noto Susanto, dan Hermawan Sulistyo – misalnya – Peristiwa 1965 dipahamkan dan dijelaskan segamblang-gamblangnya kepada kita dengan wacana diskursif yang berisi pola dan keteraturan yang memiliki presisi sangat tinggi sehingga tampak beku dan dingin. Kita pun berhadapan dengan sekian banyak formulasi hipotetis dan proposisi mengenai Peristiwa 1965.
Sebaliknya, di tangan eseis atau ahli esei dan karya literer seperti Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Umar Kayam, Arief Budiman, dan Emha Ainun Najib serta Mohamad Sobari – misalnya – Peristiwa 1965 di-berita-pikiran-kan dan dikabarkan kepada kita dengan wacana tekstual, kadang wacana naratif, yang sangat longgar sehingga tampak hidup dan terbuka. Di sini kita berpapasan dengan sekian banyak kelebatan makna konotatif-metaforis mengenai Peristiwa 1965.
Pendeknya, ilmu [karya ilmiah] membuat logoskita bekerja menyandera alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya; sedangkan esai dan karya literer justru membuat eros dan pathos kita bangkit menyuburi, membasahi atau membasuhi, dan menghidupi alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya. Dalam kata-kata Ignas Kleden, sosiolog dan pemikiran social terkemuka Indonesia, “… ilmu adalah penemuan, puisi adalah penciptaan, tetapi esai dan karya literer mengembalikan tiap orang – penulis dan pembaca – menjadi manusia biasa. Esai dan karya literer adalah perjumpaan dan persahabatan.” Oleh karena itu, dalam istilah Ignas Kleden, ilmu atau karya ilmiah adalah tulisan yang berada dalam tapal batas spesialisasi dan dalam tembok kompartentalisasi, sedangkan “… esai dan karya literer adalah tulisan yang menerobos batas-batas spesialisasi dan sekaligus menjebol tembok-tembok kompartementalisasi.”
Tentulah amat naif, terlalu sederhana, bahkan mungkin dungu apabila alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya sekadar kita pahami dan jelaskan dengan ilmu [karya ilmiah] yang spesialistis dan kompartemental. Alam semesta beserta kehidupan dan manusia di dalamnya perlu juga kita rayakan dan kabarkan dengan esai dan karya literer dan atau sastra yang melampau spesialisasi dan kompartementalisasi. Mengapa? Soalnya, ternyata, dalam hidup manusia, kita tak hanya butuh serba kepastian dan kejelasan presisif yang dipersembahkan oleh ilmu [karya ilmiah], tetapi kita juga sangat butuh kemungkinan, kemenduaan, dan keremangan-keremangan metaforis, kontemplatif, dan atau reflektif – mungkin juga ketakpastian dan ketakjelasan akibat metafora, kontemplasi, dan atau refleksi – yang disuguhkan oleh esai. Di samping itu, kehidupan manusia juga memerlukan riuh perayaan penuh kebebasan-keliaran di samping membutuhkan perumusan penuh keteraturan ketat [rigid].
Itulah sebabnya, saya kira, walaupun ilmu [karya ilmiah] terus-menerus didedahkan dan dilesakkan kepada diri kita setiap hari, bahkan mencengkeram kesadaran hidup dan akal pikiran kita, esai dan karya literer justru terasa makin kuat menggoda kita, makin lihai dan dalam menyusup ke dalam bilik-bilik kesadaran dan lubuk batin kita; itulah sebabnya, esai dan karya literer terus-menerus ditulis dan dinikmati banyak orang sekalipun ilmu [karya ilmiah] terus-menerus mencoba memenuhi kesadaran dan akal pikiran kita. Esai dan karya literer tetap mencuri perhatian orang tertentu untuk menulis atau sekadar menikmati atau mengapresiasinya sekalipun ilmu secara ofensif dan obsesif berusaha berkampanye supayakita mengabaikan atau mungkin melupakannya.
Rupanya, memang, baik ilmu maupun esai dan karya literer kita butuhkan untuk berselancar dalam mengarungi alam semesta dan kehidupan berserta bukit-bukit persoalan di dalamnya. Esai dan karya literer membimbing kita “merenangi alun-gelombang samudra kehidupan”, sedang ilmu membantu kita untuk mengetahui dan memahirkan “ilmu merenangi alun-gelombang lautan kehidupan secara lebih baik.” Esai dan karya literer memberi kita perjumpaan dan persahabatan dengan manusia dan kehidupan, ilmu memberi kita penemuan tentang manusia dan kehidupan.